Selasa, 18 Juni 2013

USAHA MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DALAM MEMPELAJARI TARI TIRIK KUALA DENGAN METODE UNIT PADA SISWI KELAS VIII B SMP NEGERI 15 BANJARMASIN


A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu usaha yang ditempuh oleh suatu bangsa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan dari bangsa yang bersangkutan demikian juga dengan bangsa Indonesia, pendidikan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan cita-cita bangsa. Salah satu pendidikan tersebut dengan pembelajaran seni tari.
Pembelajaran seni tari adalah pembelajaran seni budaya yang berusaha menggali serta mengembangkan potensi estetika peserta didik serta mempengaruhi siswa agar mempunyai nilai estetika sehingga dapat memper halus budi pekerti karena dalam seni tari terdapat unsur-unsur keindahan,   keteraturan, kedisiplinan dan dinamika. Melalui pendekatan “belajar dengan seni”, ”belajar melalui seni”, dan “belajar tentang seni”. Pembelajaran seni tari diberikan karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap perkembangan peserta didik berupa pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi.  Sejalan dengan kebijakan otonomi pendidikan dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMP Negeri 15 Banjarmasin. Maka melalui pembelajaran seni tari diharapkan siswi mengetahui dan dapat menikmati serta dapat memberikan apresiasi kepada karya tari yang akan mereka hadapi dalam kehidupannya serta membantu dalam kreatifitasnya (Rusliana, dkk, 2008:9).
Tari tirik kuala dipilih dalam pembelajaran dikelas VIII B SMP 15 Banjarmasin, karena tari tersebut merupakan  tari berpasangan yang sesuai dengan Kurikulum 2006, dan  jenis tari tradisional yang merupakan tari pergaulan muda-mudi masyarakat Kalimantan Selatan yang juga berfungsi sebagai tari hiburan.
Siswi  SMP 15 Banjarmasin terdiri dari para siswi-siswi. Dengan tari ini lebih mudah melakukan pembelajaran karena sebagian siswi biasanya agak sulit diajar seni tari karena merasa malu dan tidak percaya diri untuk melakukan gerak tari. Tetapi diantara siswi-siswi SMP 15 Banjarmasin terdapat beberapa siswi yang berbakat menari. Ini dapat dilihat ada beberapa siswi yang secara tepat mampu menguasai gerak dasar tari yang telah diajarkan.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan guru pada SMP 15 Banjarmasin, pengajaran seni tari lebih banyak dilakukan dengan metode demonstrasi sehingga menyebabkan siswi merasa bosan. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik dikelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan metode unit dalam mengajar seni tari.
Metode mengajar merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode mengajar dapat diartikan sebagai cara yang dapat digunakan guru menyampaikan atau mengerjakan suatu materi pelajaran, agar terjadi interaksi dalam proses belajar mengajar. Untuk mengatasi berbagai hal yang diuraikan diatas, penelitian bermaksud melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Usaha Meningkatkan Hasil Pembelajaran Seni Budaya  Dalam Mempelajari Tari Tirik Kuala Dengan  Metode Unit pada Siswi Kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin”

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :
(1)   Apakah metode unit ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran  seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B  SMP Negeri 15 Banjarmaasin
(2)   Bagaimana penerapan metode unit dalam pembelajaran  seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B  SMP Negeri 15 Banjarmaasin
(3)   Bagaimana respon siswi terhadap pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala dengan metode unit pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.

C.    Batasan Masalah
Batasan masalah penelitian ini adalah:
(1)   Hasil belajar siswi kelas VIII B dalam pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala, dilakukan khusus pada unsur gerak dasar menggunakan metode unit pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.
(2)   Penerapan metode unit dalam pembelajaran  seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B  SMP Negeri 15 Banjarmaasin.
(3)   Respon siswi kelas VIII B terhadap pembelajaran tari tirik kuala dengan metode unit pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
(1)   Ingin mengetahui hasil belajar siswi kelas VIII B dalam mempelajari tari tirik kuala dengan metode unit pada SMP  Negeri 15 Banjarmasin
(2)   Menjelaskan tentang penerapan metode unit dalam pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala pada SMP Negeri 15 Banjarmasin
(3)   Ingin mengetahui respon siswi kelas VIII B terhadap pembelajaran tari tirik kuala dengan metode unit pada  SMP Negeri 15 Banjarmasin.

E.     Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini  diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1.      Manfaat secara Teoritis yaitu :
a.       Untuk menambah khasanah Ilmu Pengetahuan khususnya pembelajaran seni tari  pada siswa.
b.      Meningkatkan Mutu isi, masukan, proses serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
c.       Meningkatkan sikap  profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
d.      Menumbuh kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
2.      Manfaat secara Praktis yaitu :
a.       Bagi siswi
Dapat meningkatkan hasil belajar khususnya tari tirik kuala.
b.      Bagi guru
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan pengetahuan dan keterampilan  dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar disekolah.
c.       Bagi sekolah
Penelitian ini merupakan informasi untuk mencari alternatif meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar.

F.     Landasan Teori
(1)   Hakikat Hasil Belajar
Skinner berpandangan  bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang  belajar, maka  responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar  maka responnya menurun (Dimyati dan Mudjiono, 1999:9).
Menurut Gagne belajar  merupakan kegiatan yang  kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang  memiliki keterampilan,  pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang berkembang dari  lingkungan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajaran. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat kognitif yang mengubah sifat stimulasi  lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas  baru (Dimyati dan Mudjiono, 1999:10).
Piaget  berpendapaat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan  interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami  perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek akan berkembang (Dimyati dan Mudjiono, 1999:13).
Pengertian keberhasilan untuk menyatakan bahwa suatu proses  belajar-mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan  filosofinya. Namun  untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman  pada Kurikulum  yang berlaku saat ini   yang  telah disempurnakan antara lain bahwa “  suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pegajaran menyatakan berhasil  tentang suatu bahan pengajaran menyatakan berhasil apabila tujuan  intrusional khusus (TIK) tersebut dapat dicapai (Usman dan Lilis setiawati,  2001:7).
Analisis hasil belajar adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar atau ketuntasan belajar bagi setiap siswi dalam setiap mengikuti tes sub-sumatif atau sumatif (Usman dan Lilis Setiawati, 2001:54)
Menurut Nana sudjana hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar mengajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun perbuatan(Usman dan Lilis Setiawati, 2001:60).
Berdasarkan uraian  diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu perbuatan pada individu yang belajar, tidak ha nya mengenai pengetahuan, tetapi  juga  membentuk kecakapan dan  penghayatan  dalam diri pribadi individu  yang belajar.
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari  mata pelajaran  yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif.

1.1         Pengertian Tari
“Seni Tari” sebagai ekspresi manusia yang bersifat estetis, kehadirannya tidak bersifat independen. Dilihat secara tekstual, tapi dapat dipahami dari bentuk dan teknik yang berkaitan dengan komposisinya (analisis bentuk atau penataan koreografi) atau teknik penarinya (analisis cara melakukan atau keterampilan).
(Sumandiyo H, 2005:2).
Menurut Iyus Rusliana, dkk (1982 : 10) ada beberapa batasan atau definisi tari yang merupakan hasil pemikiran para ahli,  yaitu:
Ahli tari dari India yang bernama Kamaladevi Chattopadhyaya, berpendapat : “Tari adalah gerakan luar yang ritmis dan lama kelamaan nampak mengarah kepada bentuk-bentuk tertentu”.
Serta ahli tari dari Indonesia yang bernama Soedarsono, berpendapat ialah “Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah”.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian tari maka peneliti menyimpulkan pendapatnya sendiri tentang pengertian tari yaitu ekspresi seseorang untuk melakukan sesuatu gerak tubuh dengan indah.

1.2         Tari  tirik Kuala
Tari tirik sebenarnya berasal dari desa Pandahan Kecamatan  Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dalam perkembangannya, tari tirik ini menyebar sampai ke Banjarmasin.
Di Banjarmasin, tari tirik mengalami beberapa perubahan variasi gerak tarinya sebagai tari kreasi baru, sehingga berbeda dengan tari tirik dari desa Pandahan. Untuk membedakan tari tirik kreasi baru yang berkembang di daerah Banjarmasin dengan tari tirik dari desa Pandahan maka tari tirik kreasi baru ini disebut dengan  tari tirik kuala.
Tari tirik kuala ini sekarang masih hidup berkembang dan sangat digemari oleh masyarakat di daerah Kotamadya Banjarmasin sebagai sarana kesenian hiburan.
Tarian ini merupakan tarian pergaulan muda mudi masyarakat Kalimantan Selatan yang romantis,  namun masih dibatasi oleh norma-norma agama dan adat. Tarian ini biasanya dilaksanakan setelah masa panen sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira setelah seharian bekerja disawah / ladang.
Dalam tarian ini disamping sebagai tari hiburan muda mudi juga sekaligus dalam tarian ini dimanfaatkan oleh para muda mudi untuk mencari pasangan hidup yang cocok.

1.3         Ragam gerak tari tirik kuala yaitu:
(1)     Step empat (melangkah empat kali, langkah keempat kaki jingkit).
(2)     Persembahan (menyatukan dua telapak tangan didepan dada).
(3)     Step dua (melangkah dua kali, langkah kedua kaki jingkit).
(4)     Zig-zag (melangkah kesamping, kaki kanan–kaki kiri dibelakang kaki kanan-kaki kanan-kaki kiri jingkit atau sebaliknya).
(5)     Step empat maju mundur (melangkah empat kali, langkah keempat kaki jingkit, dilakukan maju dan mundur secara bergantian).
(6)     Step empat berputar (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit kemudian melangkah empat kali dengan berputar 90 derajat).
(7)     Step empat mundur (melangkah mundur empat kali, langkah keempat jingkit).
(8)     Step empat MW (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit sambil membentuk huruf M untuk wanita dan membentuk huruf W untuk pria) step empat (wanita) - step dua (pria).
(9)     Maju serong kanan (maju empat langkah serong kanan, langkah keempat jingkit)-dilanjutkan zig-zag-mundur-step dua.
(10) Maju serong kiri (maju serong kiri empat langkah, langkah keempat kaki jingkit) membentuk huruf L/siku-siku-zig-zag-mundur step empat .
(11) Step dua
(12) Kijik putar (posisi telapak kaki T digerakkan secara bergantian sambil berputar) ditempat.
(13) Kijik (posisi telapak kaki T digerakkan/dilangkahkan secara bergantian) membentuk angka delapan (kaki kanan).
(14) Kijik setengah lingkaran (4 hitungan)-menghadap kebelakang-kijik kesamping kanan dan kiri-masing-masing dua hitungan.
(15) Kijik setengah lingkaran (4 hitungan)-menghadap depan-kijik kesamping kanan kiri 2 hitungan.
(16) Persembahan (penghormatan) terakhir.
(17) Step empat-selesai.

1.4         Metode Unit
Metode unit adalah suatu metode yang digunakan dalam mengajar seni tari dengan cara memberikan unit-unit tarian secara berulang ulang untuk ditiru oleh para siswi sampai lancar.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam metode ini adalah:
(1)   Guru menjelaskan hal-hal penting mengenai tarian yang akan diajarkan, seperti: tema/arti, sumber, latar belakang pikiran yang melandasi penciptanya dan lain-lain.
(2)   Memberikan contoh (mendemonstrasikan) tarian unit demi unit untuk diperhatikan oleh siswa.
(3)   Memberikan kesempatan kepada siswi untuk menirukan tarian yang dicontohkan guru unit demi unit sampai siswi memahaminya.
(4)   Merangkaikan unit demi unit sampai terwujudnya tarian seutuhnya.
(5)   Mengadakan posttest dalam bentuk perbuatan, yaitu para siswa diharuskan menampilkan unit-unit gerak sesuai dengan perintah guru, baik secara berkelompok maupun perorangan.

Keunggulan metode unit adalah :
(1)   Dapat melatih daya ingat siswi secara bertahap, sehingga metode ini bisa diikuti oleh siswi yang agak lemah daya ingatnya.
(2)   Dapat segera memberikan kepuasan, baik kepada siswi maupun kepada guru, karena hasil latihan bisa segera dilihat secara bertahap.
(3)   Dapat menghilangkan perbedaan prestasi yang terlalu besar diantara  para siswi.
(4)   Kualitas gerak bisa  terjamin .
(5)   Mudah dilatih sendiri oleh siswi.
(Milyartini,2002:4.24)

Ragam tari tirik kuala dibagi dengan unit sebagai berikut:
·         Unit 1 :
(1)      Step empat (melangkah empat kali, langkah ke empat  kaki menjingkit).
(2)      Persembahan (menyatukan dua telapak tangan didepan dada).
(3)      Step dua ( melangkah dua kali, langkah kedua kaki jingkit).
·         Unit 2 :
(1)               Zig-zag ( melangkah kesamping, kaki kanan-kaki kiri di belakangkaki kanan-kaki kanan-kaki kiri jingkit, atau sebaliknya).
(2)               Step empat maju mundur (melangkah empat kali, langkah keempat kaki jingkit, dilakukan maju dan mundur secara bergantian).
·         Unit 3 :
(1)   Step empat berputar (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit kemudian melangkah empat kali dengan berputar 90 derajat)
(2)   Step empat mundur  (melangkah mundur empat kali, langkah keempat jingkit)
·         Unit 4:
(1)   Step empat MW (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit sambil membentuk huruf  M untuk wanita dan membentuk huruf W untuk pria step empat (wanita)—Step dua  (pria)
(2)   Maju serong kanan  (maju empat langkah serong kanan, langkah keempat jingkit)-dilanjutkan zig-zag-mundur-step dua.


·         Unit 5 :
(1)   Maju serong kiri  (maju serong kiri empat langkah, langkah keempat kaki jingkit) membentuk huruf L/siku-siku-zig-zag-undur step empat
(2)   Step dua
·         Unit 6 :
(1)    Kijik putar  (posisi telapak kaki  T digerakkan secara  bergantian  sambil berputar ditempat).
(2)   Kijik (Posisi telapak kaki T digerakkan/dihilangkan secara bergantian) membentuk angka delapan (kiri-kanan).
(3)   Kijik setengah lingkungan (4 hitungan)-menghadap kedepan-kijik kesamping kanan kiri dua hitungan.
·         Unit  7 :
(1)   Persembahan (penghormatan)
(2)   Step empat-Selesai

G.    Hipotesis
Metode unit dapat meningkatkan hasil pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B SMP Negeri 15  Banjarmasin

H.    Metode Penelitian
1.      Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan  penelitian tindakan kelas ( PTK ) yang dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif  (nilai hasil belajar siswi) dapat dianalisis secara deskriptif. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif.
(Kunandar,2008:128).


2.      Subjek Penelitian
            Subjek Penelitian adalah siswi kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin dengan jumlah 30 orang, semua berjenis kelamin  perempuan.


3.      Lokasi Penelitian
            Tempat penelitian dilaksanakan pada SMP Negeri 15 Banjarmasin Kotamadya Banjarmasin  Kalimantan Selatan untuk mata pelajaran seni budaya.  Pemilihan kelas VIII B didasarkan pada kurang baiknya nilai menari siswa pada pelajaran sebelumnya. Materi tari tirik  kuala dipilih karena tari ini merupakan tari berpasangan yang sesuai dengan kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan (KTSP), dan jenis tari tradisional yang merupakan  tari pergaulan  muda-mudi masyarakat Kalimantan Selatan  dan juga berfungsi sebagai tari hiburan.


4.    Teknik Pengumpulan Data
4.1.   Teknik
(1)   Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang peristiwa siswi dalam pelaksanaan belajar  mengajar dengan metode unit.
(2)   Wawancara, untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan siswi dengan  menggunakan metode unit.
(3)   Tes teknik ini  digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar yang dicapai siswi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan metode unit.


4.2.   Teknik Analisis Data
Data kuantitatif yang terkumpul dianalisisdan dihitung untuk mencari ketuntasan belajar siswi baik secara individual ataupun klasikal dengan pengukuran rumus berikut:

Ketuntasan Individual X 100%

Ketuntasan Klasikal     = X 100%

Keterangan :
Ketuntasan Individual : jika mencapai ketuntasan ≥ 70
Ketuntasan Klasikal : jika ≥ 85 % dari seluruh siswa mencapai ketuntasan ≥ 70.
( Sumber :  Lismawati :2010)

4.3.   Keberhasilan Indikator Belajar
Penelitian ini dikatakan berhasil dengan ketuntasan sebagai berikut:
(1)   Ketuntasan belajar siswi individu tercapai bila siswi tersebut mendapat nilai ≥ 70, sesuai dengan kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran  Seni Budaya pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.
(2)   Ketuntasan belajar siswi secara klasikal tercapai bila 85% siswi memperoleh nilai minimal ≥ 70, dilihat dari nilai posttest.

4.4.   Prosedur penelitian
     Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Direncanakan terdiri  dari dua siklus yaitu sebagai berikut:

4.4.1.      Siklus I
(1)   Perencanaan
a)     Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan dengan menggunakan metode unit.
b)     Membuat rencana pembelajaran metode unit.
c)     Membuat lembar kerja siswi.
d)    Membuat instrument  yang digunakan dalam siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
e)     Menyusun Evaluasi pembelajaran.
(2)   Pelaksanaan
a)     Guru melaksanakan hal-hal penting mengenai tarian  yang akan diajarkan, seperti : tema/arti, sumber, latar belakang pikiran yang melandasi penciptanya, dan lain-lain.
b)     Memberikan contoh (mendemonstrasikan) tarian unit demi unit untuk diperhatikan oleh siswi.
c)     Memberikan kesempatan kepada siswi untuk menirukan tarian yang dicontohkan guru unit demi unit sampai siswi memahaminya.
d)    Merangkaikan  unit demi unit sampai terwujudnya tarian seutuhnya.
e)     Mengadakan  posttest dalam bentuk perbuatan,  yaitu para siswi diharuskan  menampilkan  unit gerak sesuai dengan  perintah guru secara berkelompok.

(3)   Pengamatan 
a)      Situasi pengamatan  belajar.
b)      Hasil belajar siswi.

(4)   Refleksi
Penelitian tindakan  kelas ini berhasil apabila indikator keberhasilan belajar telah tercapai.


4.4.2.      Siklus II
Siklus II hanyakan dilakukan jika hasil tindakan pada siklus pertama tidak berhasil mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Hasil refleksi pada siklus 1 dianalisis dan dilihat pada aspek-aspek mana yang perlu diperbaiki.
Untuk selanjutnya dibuat kembali perencanaan siklus 2 serta refleksi siklus.

I.       Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan  pada tahun ajaran 2012-2013, yaitu bulan Maret sampai dengan Juli 2013
Jadwal penelitian sebagai berikut:
No
Kegiatan
Bulan
Maret
April
Mei
Juni
Juli
1
Persiapan
       X
      X



2
Penelitian


      X
      X
       X
3
Pengolahan dan analisa data


      X
      X
       X
4
Pelaporan




       X