A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
merupakan salah satu usaha yang ditempuh oleh suatu bangsa dalam rangka
mencapai tujuan pembangunan dari bangsa yang bersangkutan demikian juga dengan
bangsa Indonesia, pendidikan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan cita-cita
bangsa. Salah satu pendidikan tersebut dengan pembelajaran seni tari.
Pembelajaran
seni tari adalah pembelajaran seni budaya yang berusaha menggali serta mengembangkan
potensi estetika peserta didik serta mempengaruhi siswa agar mempunyai nilai
estetika sehingga dapat memper halus budi
pekerti karena dalam seni tari terdapat unsur-unsur keindahan, keteraturan, kedisiplinan dan dinamika. Melalui
pendekatan “belajar dengan seni”, ”belajar melalui seni”, dan “belajar tentang
seni”. Pembelajaran seni tari diberikan karena keunikan, kebermaknaan, dan
kebermanfaatan terhadap perkembangan peserta didik berupa pemberian pengalaman
estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi. Sejalan dengan kebijakan otonomi pendidikan
dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMP Negeri 15 Banjarmasin.
Maka melalui pembelajaran seni tari diharapkan siswi mengetahui dan dapat
menikmati serta dapat memberikan apresiasi kepada karya tari yang akan mereka
hadapi dalam kehidupannya serta membantu dalam kreatifitasnya (Rusliana, dkk,
2008:9).
Tari
tirik kuala dipilih dalam pembelajaran dikelas VIII B SMP 15 Banjarmasin,
karena tari tersebut merupakan tari
berpasangan yang sesuai dengan Kurikulum 2006, dan jenis tari tradisional yang merupakan tari
pergaulan muda-mudi masyarakat Kalimantan Selatan yang juga berfungsi sebagai
tari hiburan.
Siswi SMP 15 Banjarmasin terdiri dari para
siswi-siswi. Dengan tari ini lebih mudah melakukan pembelajaran karena sebagian
siswi biasanya agak sulit diajar seni tari karena merasa malu dan tidak percaya
diri untuk melakukan gerak tari. Tetapi diantara siswi-siswi SMP 15 Banjarmasin
terdapat beberapa siswi yang berbakat menari. Ini dapat dilihat ada beberapa siswi
yang secara tepat mampu menguasai gerak dasar tari yang telah diajarkan.
Berdasarkan
pengalaman dan pengamatan guru pada SMP 15 Banjarmasin, pengajaran seni tari
lebih banyak dilakukan dengan metode demonstrasi sehingga menyebabkan siswi
merasa bosan. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan
lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik dikelas. Salah
satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan
metode yang bagaimana akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Salah satu
metode yang dapat digunakan adalah dengan metode unit dalam mengajar seni tari.
Metode
mengajar merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode
mengajar dapat diartikan sebagai cara yang dapat digunakan guru menyampaikan
atau mengerjakan suatu materi pelajaran, agar terjadi interaksi dalam proses
belajar mengajar. Untuk mengatasi berbagai hal yang diuraikan diatas,
penelitian bermaksud melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Usaha
Meningkatkan Hasil Pembelajaran Seni Budaya
Dalam Mempelajari Tari Tirik Kuala Dengan Metode Unit pada Siswi Kelas VIII B SMP
Negeri 15 Banjarmasin”
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah
penelitian ini sebagai berikut :
(1) Apakah
metode unit ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala pada
siswi kelas VIII B SMP Negeri 15
Banjarmaasin
(2) Bagaimana
penerapan metode unit dalam pembelajaran
seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmaasin
(3) Bagaimana
respon siswi terhadap pembelajaran seni budaya melalui tari tirik kuala dengan
metode unit pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.
C.
Batasan
Masalah
Batasan masalah
penelitian ini adalah:
(1) Hasil
belajar siswi kelas VIII B dalam pembelajaran seni budaya melalui tari tirik
kuala, dilakukan khusus pada unsur gerak dasar menggunakan metode unit pada SMP
Negeri 15 Banjarmasin.
(2) Penerapan
metode unit dalam pembelajaran seni budaya
melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmaasin.
(3) Respon
siswi kelas VIII B terhadap pembelajaran tari tirik kuala dengan metode unit
pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini
adalah :
(1) Ingin
mengetahui hasil belajar siswi kelas VIII B dalam mempelajari tari tirik kuala
dengan metode unit pada SMP Negeri 15
Banjarmasin
(2) Menjelaskan
tentang penerapan metode unit dalam pembelajaran seni budaya melalui tari tirik
kuala pada SMP Negeri 15 Banjarmasin
(3) Ingin
mengetahui respon siswi kelas VIII B terhadap pembelajaran tari tirik kuala dengan
metode unit pada SMP Negeri 15
Banjarmasin.
E.
Manfaat
Penelitian.
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Manfaat
secara Teoritis yaitu :
a. Untuk
menambah khasanah Ilmu Pengetahuan khususnya pembelajaran seni tari pada siswa.
b. Meningkatkan
Mutu isi, masukan, proses serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
c. Meningkatkan
sikap profesional pendidik dan tenaga
kependidikan.
d. Menumbuh
kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap
proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
2. Manfaat
secara Praktis yaitu :
a. Bagi
siswi
Dapat meningkatkan
hasil belajar khususnya tari tirik kuala.
b. Bagi
guru
Penelitian ini diharapkan
sebagai bahan pengetahuan dan keterampilan
dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar
disekolah.
c. Bagi
sekolah
Penelitian ini
merupakan informasi untuk mencari alternatif meningkatkan kemampuan siswa dalam
proses belajar mengajar.
F.
Landasan
Teori
(1)
Hakikat
Hasil Belajar
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat
orang belajar, maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya
bila ia tidak belajar maka responnya
menurun (Dimyati dan Mudjiono, 1999:9).
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas.
Setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap dan
nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang berkembang
dari lingkungan (ii) proses kognitif
yang dilakukan oleh pembelajaran. Dengan
demikian, belajar adalah seperangkat kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi,
menjadi kapabilitas baru (Dimyati dan Mudjiono,
1999:10).
Piaget berpendapaat bahwa pengetahuan dibentuk oleh
individu. Sebab individu melakukan
interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan
lingkungan maka fungsi intelek akan berkembang (Dimyati dan Mudjiono, 1999:13).
Pengertian keberhasilan untuk menyatakan bahwa suatu
proses belajar-mengajar dapat dikatakan
berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita
berpedoman pada Kurikulum yang berlaku saat ini yang
telah disempurnakan antara lain bahwa “
suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pegajaran menyatakan
berhasil tentang suatu bahan pengajaran
menyatakan berhasil apabila tujuan
intrusional khusus (TIK) tersebut dapat dicapai (Usman dan Lilis
setiawati, 2001:7).
Analisis hasil belajar adalah untuk mengetahui
tingkat keberhasilan belajar atau ketuntasan belajar bagi setiap siswi dalam
setiap mengikuti tes sub-sumatif atau sumatif (Usman dan Lilis Setiawati, 2001:54)
Menurut Nana sudjana hasil belajar adalah suatu
akibat dari proses belajar mengajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu
berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun
perbuatan(Usman dan Lilis Setiawati, 2001:60).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah suatu perbuatan pada individu yang belajar, tidak ha nya mengenai
pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan
dalam diri pribadi individu yang
belajar.
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa
setelah mengikuti suatu materi tertentu dari
mata pelajaran yang berupa data
kuantitatif maupun kualitatif.
1.1
Pengertian Tari
“Seni
Tari” sebagai ekspresi manusia
yang bersifat estetis, kehadirannya tidak bersifat independen. Dilihat secara
tekstual, tapi dapat dipahami dari bentuk dan teknik yang berkaitan dengan
komposisinya (analisis bentuk atau penataan koreografi) atau teknik penarinya
(analisis cara melakukan atau keterampilan).
(Sumandiyo H, 2005:2).
Menurut
Iyus Rusliana, dkk (1982 : 10) ada beberapa batasan atau definisi tari yang
merupakan hasil pemikiran para ahli,
yaitu:
Ahli
tari dari India yang bernama Kamaladevi Chattopadhyaya, berpendapat : “Tari
adalah gerakan luar yang ritmis dan lama kelamaan nampak mengarah kepada
bentuk-bentuk tertentu”.
Serta
ahli tari dari Indonesia yang bernama Soedarsono, berpendapat ialah “Tari
adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah”.
Dari
beberapa pendapat para ahli tentang pengertian tari maka peneliti menyimpulkan
pendapatnya sendiri tentang pengertian tari yaitu ekspresi seseorang untuk
melakukan sesuatu gerak tubuh dengan indah.
1.2
Tari tirik Kuala
Tari
tirik sebenarnya berasal dari desa Pandahan Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan
Selatan. Dalam perkembangannya, tari tirik ini menyebar sampai ke Banjarmasin.
Di
Banjarmasin, tari tirik mengalami beberapa perubahan variasi gerak tarinya
sebagai tari kreasi baru, sehingga berbeda dengan tari tirik dari desa
Pandahan. Untuk membedakan tari tirik kreasi baru yang berkembang di daerah
Banjarmasin dengan tari tirik dari desa Pandahan maka tari tirik kreasi baru
ini disebut dengan tari tirik kuala.
Tari
tirik kuala ini sekarang masih hidup berkembang dan sangat digemari oleh
masyarakat di daerah Kotamadya Banjarmasin sebagai sarana kesenian hiburan.
Tarian
ini merupakan tarian pergaulan muda mudi masyarakat Kalimantan Selatan yang
romantis, namun masih dibatasi oleh
norma-norma agama dan adat. Tarian ini biasanya dilaksanakan setelah masa panen
sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira setelah seharian bekerja disawah /
ladang.
Dalam
tarian ini disamping sebagai tari hiburan muda mudi juga sekaligus dalam tarian
ini dimanfaatkan oleh para muda mudi untuk mencari pasangan hidup yang cocok.
1.3
Ragam gerak tari tirik
kuala yaitu:
(1) Step
empat (melangkah empat kali, langkah
keempat kaki jingkit).
(2) Persembahan
(menyatukan dua telapak tangan didepan dada).
(3) Step
dua (melangkah dua kali, langkah kedua kaki jingkit).
(4) Zig-zag
(melangkah kesamping, kaki kanan–kaki kiri dibelakang kaki kanan-kaki
kanan-kaki kiri jingkit atau sebaliknya).
(5) Step
empat maju mundur (melangkah empat kali, langkah keempat kaki jingkit, dilakukan
maju dan mundur secara bergantian).
(6) Step
empat berputar (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit kemudian
melangkah empat kali dengan berputar 90 derajat).
(7) Step
empat mundur (melangkah mundur empat kali, langkah keempat jingkit).
(8) Step
empat MW (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit sambil membentuk huruf
M untuk wanita dan membentuk huruf W untuk pria) step empat (wanita) - step dua
(pria).
(9) Maju
serong kanan (maju empat langkah serong kanan, langkah keempat jingkit)-dilanjutkan
zig-zag-mundur-step dua.
(10) Maju
serong kiri (maju serong kiri empat langkah, langkah keempat kaki jingkit)
membentuk huruf L/siku-siku-zig-zag-mundur step empat .
(11) Step
dua
(12) Kijik
putar (posisi telapak kaki T digerakkan secara bergantian sambil berputar)
ditempat.
(13) Kijik
(posisi telapak kaki T digerakkan/dilangkahkan secara bergantian) membentuk
angka delapan (kaki kanan).
(14) Kijik
setengah lingkaran (4 hitungan)-menghadap kebelakang-kijik kesamping kanan dan
kiri-masing-masing dua hitungan.
(15) Kijik
setengah lingkaran (4 hitungan)-menghadap depan-kijik kesamping kanan kiri 2
hitungan.
(16) Persembahan
(penghormatan) terakhir.
(17) Step
empat-selesai.
1.4
Metode
Unit
Metode
unit adalah suatu metode yang digunakan dalam mengajar seni tari dengan cara
memberikan unit-unit tarian secara berulang ulang untuk ditiru oleh para siswi
sampai lancar.
Langkah-langkah yang
harus ditempuh dalam metode ini adalah:
(1) Guru
menjelaskan hal-hal penting mengenai tarian yang akan diajarkan, seperti:
tema/arti, sumber, latar belakang pikiran yang melandasi penciptanya dan
lain-lain.
(2) Memberikan
contoh (mendemonstrasikan) tarian unit demi unit untuk diperhatikan oleh siswa.
(3) Memberikan
kesempatan kepada siswi untuk menirukan tarian yang dicontohkan guru unit demi
unit sampai siswi memahaminya.
(4) Merangkaikan
unit demi unit sampai terwujudnya tarian seutuhnya.
(5) Mengadakan
posttest dalam bentuk perbuatan, yaitu para siswa diharuskan menampilkan
unit-unit gerak sesuai dengan perintah guru, baik secara berkelompok maupun
perorangan.
Keunggulan metode unit
adalah :
(1) Dapat
melatih daya ingat siswi secara bertahap, sehingga metode ini bisa diikuti oleh
siswi yang agak lemah daya ingatnya.
(2) Dapat
segera memberikan kepuasan, baik kepada siswi maupun kepada guru, karena hasil
latihan bisa segera dilihat secara bertahap.
(3) Dapat
menghilangkan perbedaan prestasi yang terlalu besar diantara para siswi.
(4) Kualitas
gerak bisa terjamin .
(5) Mudah
dilatih sendiri oleh siswi.
(Milyartini,2002:4.24)
Ragam tari tirik kuala dibagi
dengan unit sebagai berikut:
·
Unit 1 :
(1) Step
empat (melangkah empat kali, langkah ke empat
kaki menjingkit).
(2) Persembahan
(menyatukan dua telapak tangan didepan dada).
(3) Step
dua ( melangkah dua kali, langkah kedua kaki jingkit).
·
Unit 2 :
(1)
Zig-zag ( melangkah
kesamping, kaki kanan-kaki kiri di belakangkaki kanan-kaki kanan-kaki kiri
jingkit, atau sebaliknya).
(2)
Step empat maju mundur (melangkah
empat kali, langkah keempat kaki jingkit, dilakukan maju dan mundur secara
bergantian).
·
Unit 3 :
(1) Step
empat berputar (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit kemudian
melangkah empat kali dengan berputar 90 derajat)
(2) Step
empat mundur (melangkah mundur empat
kali, langkah keempat jingkit)
·
Unit 4:
(1) Step
empat MW (melangkah empat kali, langkah keempat jingkit sambil membentuk
huruf M untuk wanita dan membentuk huruf
W untuk pria step empat (wanita)—Step dua
(pria)
(2) Maju
serong kanan (maju empat langkah serong
kanan, langkah keempat jingkit)-dilanjutkan zig-zag-mundur-step dua.
·
Unit 5 :
(1) Maju
serong kiri (maju serong kiri empat
langkah, langkah keempat kaki jingkit) membentuk huruf L/siku-siku-zig-zag-undur
step empat
(2) Step
dua
·
Unit 6 :
(1) Kijik putar
(posisi telapak kaki T digerakkan
secara bergantian sambil berputar ditempat).
(2) Kijik
(Posisi telapak kaki T digerakkan/dihilangkan secara bergantian) membentuk
angka delapan (kiri-kanan).
(3) Kijik
setengah lingkungan (4 hitungan)-menghadap kedepan-kijik kesamping kanan kiri
dua hitungan.
·
Unit 7 :
(1) Persembahan
(penghormatan)
(2) Step
empat-Selesai
G.
Hipotesis
Metode unit dapat meningkatkan hasil pembelajaran
seni budaya melalui tari tirik kuala pada siswi kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin
H.
Metode
Penelitian
1.
Rancangan
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( PTK ) yang
dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif
(nilai hasil belajar siswi) dapat dianalisis secara deskriptif. Dalam
hal ini peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif.
(Kunandar,2008:128).
2.
Subjek
Penelitian
Subjek Penelitian
adalah siswi kelas VIII B SMP Negeri 15 Banjarmasin dengan jumlah 30 orang, semua
berjenis kelamin perempuan.
3.
Lokasi
Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan pada SMP
Negeri 15 Banjarmasin Kotamadya Banjarmasin
Kalimantan Selatan untuk mata pelajaran seni budaya. Pemilihan kelas VIII B didasarkan pada kurang
baiknya nilai menari siswa pada pelajaran sebelumnya. Materi tari tirik kuala dipilih karena tari ini merupakan tari
berpasangan yang sesuai dengan kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), dan jenis tari
tradisional yang merupakan tari
pergaulan muda-mudi masyarakat
Kalimantan Selatan dan juga berfungsi
sebagai tari hiburan.
4.
Teknik
Pengumpulan Data
4.1.
Teknik
(1) Observasi
dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang peristiwa siswi dalam pelaksanaan
belajar mengajar dengan metode unit.
(2) Wawancara,
untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan siswi dengan menggunakan metode unit.
(3) Tes
teknik ini digunakan untuk memperoleh
data mengenai prestasi belajar yang dicapai siswi sebelum dan sesudah mengikuti
pembelajaran dengan metode unit.
4.2.
Teknik
Analisis Data
Data
kuantitatif yang terkumpul dianalisisdan dihitung untuk mencari ketuntasan
belajar siswi baik secara individual ataupun klasikal dengan pengukuran rumus
berikut:
Ketuntasan Individual
X 100%
Ketuntasan Klasikal =
X 100%
Keterangan :
Ketuntasan Individual : jika mencapai ketuntasan ≥
70
Ketuntasan Klasikal : jika ≥ 85 % dari seluruh siswa
mencapai ketuntasan ≥ 70.
(
Sumber : Lismawati :2010)
4.3.
Keberhasilan
Indikator Belajar
Penelitian ini dikatakan berhasil dengan ketuntasan
sebagai berikut:
(1) Ketuntasan
belajar siswi individu tercapai bila siswi tersebut mendapat nilai ≥ 70, sesuai
dengan kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Seni Budaya pada SMP Negeri 15 Banjarmasin.
(2) Ketuntasan
belajar siswi secara klasikal tercapai bila 85% siswi memperoleh nilai minimal
≥ 70, dilihat dari nilai posttest.
4.4.
Prosedur
penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Direncanakan terdiri dari dua siklus yaitu sebagai berikut:
4.4.1.
Siklus
I
(1) Perencanaan
a) Peneliti
melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan
dengan menggunakan metode unit.
b) Membuat
rencana pembelajaran metode unit.
c) Membuat
lembar kerja siswi.
d) Membuat
instrument yang digunakan dalam siklus
Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
e) Menyusun
Evaluasi pembelajaran.
(2) Pelaksanaan
a) Guru
melaksanakan hal-hal penting mengenai tarian
yang akan diajarkan, seperti : tema/arti, sumber, latar belakang pikiran
yang melandasi penciptanya, dan lain-lain.
b) Memberikan
contoh (mendemonstrasikan) tarian unit demi unit untuk diperhatikan oleh siswi.
c) Memberikan
kesempatan kepada siswi untuk menirukan tarian yang dicontohkan guru unit demi
unit sampai siswi memahaminya.
d) Merangkaikan unit demi unit sampai terwujudnya tarian
seutuhnya.
e) Mengadakan posttest dalam bentuk perbuatan, yaitu para siswi diharuskan menampilkan
unit gerak sesuai dengan perintah
guru secara berkelompok.
(3) Pengamatan
a) Situasi
pengamatan belajar.
b) Hasil
belajar siswi.
(4) Refleksi
Penelitian
tindakan kelas ini berhasil apabila
indikator keberhasilan belajar telah tercapai.
4.4.2.
Siklus
II
Siklus
II hanyakan dilakukan jika hasil tindakan pada siklus pertama tidak berhasil
mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Hasil refleksi pada siklus 1
dianalisis dan dilihat pada aspek-aspek mana yang perlu diperbaiki.
Untuk
selanjutnya dibuat kembali perencanaan siklus 2 serta refleksi siklus.
I.
Jadwal
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada tahun ajaran
2012-2013, yaitu bulan Maret sampai dengan Juli 2013
Jadwal penelitian
sebagai berikut:
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan
|
||||
|
Maret
|
April
|
Mei
|
Juni
|
Juli
|
||
|
1
|
Persiapan
|
X
|
X
|
|
|
|
|
2
|
Penelitian
|
|
|
X
|
X
|
X
|
|
3
|
Pengolahan dan analisa data
|
|
|
X
|
X
|
X
|
|
4
|
Pelaporan
|
|
|
|
|
X
|